:: Search ::

Selasa, 13 November 2012


BAHAYA NARKOBA
BAGI REMAJA
Definisi
Pada Tanggal 26 Juni 2006 lalu diperingati sebagai Anti Madat Sedunia. Didorong keprihatinan akan meningkatnya pengguna narkoba khususnya di kalangan remaja, maka sebagai wujud kepedulian bz! berkenaan dengan peringatan Hari Anti Narkoba Internasional serta sebagai upaya mencegah meluasnya pemakaian narkoba terutama dikalangan remaja, redaksi menurunkan artikel mengenai bahaya narkoba - redaksi
Masalah utama remaja berawal dari pencarian jati diri. Mereka mengalami krisis identitas karena untuk dikelompokkan ke dalam kelompok anak-anak merasa sudah besar, namun kurang besar untuk dikelompokkan dalam kelompok dewasa. Hal ini merupakan masalah bagi setiap remaja di belahan dunia ini.
Oleh karena pergumulan di masa remaja ini, maka remaja mempunyai kebutuhan sosialisasi yang seoptimal mungkin, serta dibutuhkan pengertian dan dukungan orangtua dan keluarga dalam kerentanan di masa remaja.Bila kebutuhan remaja kurang diperhatikan, maka remaja akan terjebak dalam perkembangan pribadi yang "lemah", bahkan dapat dengan mudah terjerumus ke dalam belenggu penyalahgunaan narkoba.
Hingga sekarang, penyalahgunaan narkoba semakin luas di masyarakat kita, terutama semakin banyak di kalangan para remaja yang sifatnya ingin tahu dan ingin coba-coba. Banyak alasan mengapa banyak yang terjerumus ke bahan terlarang dan berbahaya ini kemudian tidak mampu melepaskan diri lagi. Alasannya antara lain:
1. hal ini sudah dianggap sebagai suatu gaya hidup masa ini
2. dibujuk orang agar merasakan manfaatnya
3. ingin lari dari masalah yang ada, untuk merasakan kenikmatan sesaat
4. ketergantungan dan tidak ada keinginan untuk berhenti dan mungkin masih banyak alasan lainnya.
Ada baiknya kita mengintip sedikit tentang narkoba. Apa saja sih jenis-jenis narkoba? Menurut situs kespro dot info, pada dasarnya narkoba itu dibagi atas 4 kelompok, yaitu:
1. narkotika, terutama opiat atau candu.
2, halusinogenik, misalnya ganja atau mariyuana
3. stimulan, misalnya ekstasi dan shabu-shabu
4. depresan, misalnya obat penenang.
Masing-masing kelompok mempunyai pengaruh tersendiri terhadap tubuh dan jiwa penggunanya. Opiat, yang menghasilkan heroin atau “putauw†menimbulkan perasaan seperti melayang dan perasaan enak atau senang luar biasa, yang disebut euforia. Tetapi ketergantungannya sangat tinggi dan dapat menyebabkan kematian. Marijuana atau ganja, yang termasuk kelompok halusinogenik, mengakibatkan timbulnya halusinasi sehingga pengguna tampak senang berkhayal. Tetapi sekitar 40-60 persen pengguna justru melaporkan berbagai efek samping yang tidak menyenangkan, misalnya muntah, sakit kepala, koordinasi yang lambat, tremor, otot terasa lemah, bingung, cemas, ingin bunuh diri, dan beberapa akibat lainnya.
Bahan yang tergolong stimulan menimbulkan pengaruh yang bersifat merangsang sistem syaraf pusat sehingga menimbulkan rangsangan secara fisik dan psikis. Ecstasy, yang tergolong stimulan, menyebabkan pengguna merasa terus bersemangat tinggi, selalu gembira, ingin bergerak terus, sampai tidak ingin tidur dan makan. Akibatnya dapat sampai menimbulkan kematian.
Sebaliknya bahan yang tergolong depresan menimbulkan pengaruh yang bersifat menenangkan. Depresan atau yang biasa disebut obat penenang, dibuat secara ilmiah di laboratorium. Berdasarkan indikasi yang benar, obat ini banyak digunakan sesuai dengan petunjuk dokter. Dengan obat ini, orang yang merasa gelisah atau cemas misalnya, dapat menjadi tenang. Tetapi bila obat penenang digunakan tidak sesuai dengan indikasi dan petunjuk dokter, apalagi digunakan dalam dosis yang berlebihan, justru dapat menimbulkan akibat buruk lainnya.
akibat penyalahgunaan narkoba
Pada dasarnya akibat penyalahgunaan narkoba dapat dibagi menjadi akibat fisik dan psikis. Akibat yang terjadi tentu tergantung kepada jenis narkoba yang digunakan, cara penggunaan, dan lama penggunaan.
Beberapa akibat fisik ialah kerusakan otak, gangguan hati, ginjal, paru-paru, dan penularan HIV/AIDS melalui penggunaan jarum suntik bergantian. Sebagai contoh, sekitar 70 persen pengguna narkoba suntikan di Cina tertular HIV/ AIDS. Di Indonesia, sejak beberapa tahun terakhir ini jumlah kasus HIV/AIDS yang tertular melalui penggunaan jarum suntik di kalangan pengguna narkotik tampak meningkat tajam. Akibat lain juga timbul sebagai komplikasi cara penggunaan narkoba melalui suntikan, misalnya infeksi pembuluh darah dan penyumbatan pembuluh darah.
Di samping akibat tersebut di atas, terjadi juga pengaruh terhadap irama hidup yang menjadi kacau seperti tidur, makan, minum, mandi, dan kebersihan lainnya. Lebih lanjut, kekacauan irama hidup memudahkan timbulnya berbagai penyakit.
Akibat psikis yang mungkin terjadi ialah sikap yang apatis, euforia, emosi labil, depresi, kecurigaan yang tanpa dasar, kehilangan kontrol perilaku, sampai mengalami sakit jiwa.
Akibat fisik dan psikis tersebut dapat menimbulkan akibat lebih jauh yang mungkin mengganggu hubungan sosial dengan orang lain. Bahkan acapkali pula merugikan orang lain. Sebagai contoh, perkelahian dan kecelakaan lalu lintas yang terjadi karena pelaku tidak berada dalam keadaan normal, baik fisik maupun psiki
Narkoba yang Adiktif
Penggunaan narkoba dapat menimbulkan ketergantungan. Ketergantungan terhadap narkoba ternyata tidak mudah diatasi. Meski cukup banyak remaja yang berjuang untuk keluar dari ketergantungan narkoba, acap kali mereka jatuh kembali. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah meluncurkan program substitusi obat dengan menggunakan metadon. Diharapkan dengan pemberian metadon ini penggunaan narkoba suntikan dapat dikurangi atau dihentikan. Penggunaan narkoba suntikan amat berisiko menularkan penyakit Hepatitis C dan HIV.
Penelitian di RS Cipto Mangunkusumo mendapatkan angka kekerapan Hepatitis C di kalangan pengguna narkoba suntikan mencapai 77 persen. Sedangkan kekerapan HIV pada pengguna narkoba suntikan di Indonesia berkisar antara 60 persen sampai 90 persen.


Dukungan Sangat Penting
Setelah beban fisik pengguna narkoba suntikan dapat diatasi, maka masih ada beban psikologis dan sosial. Beban psikologis dan sosial ini kadang-kadang amat berat sehingga dapat menyebabkan remaja kambuh kembali menggunakan narkoba suntikan. Oleh karena itu, perlu diwujudkan lingkungan yang mendukung. Di Indonesia lingkungan yang paling penting adalah keluarga. Kesediaan keluarga untuk menerima remaja yang pernah menggunakan narkoba suntikan di tengah keluarga merupakan dukungan yang amat berharga. Sebagian remaja dapat meneruskan pendidikannya dan memperoleh pekerjaan. Namun, sebagian lagi tak mungkin meneruskan sekolah dan harus menghadapi kenyataan bahwa mereka harus berjuang untuk hidup dengan bekal pendidikan yang terbatas.
Hendaknya kita dapat meningkatkan berbagai potensi yang ada di tengah masyarakat. Kita perlu bergandeng tangan untuk mencegah remaja menggunakan narkoba.
Adapun bagi remaja yang telah menggunakan diperlukan layanan yang terpadu untuk membawa mereka kembali ke tengah masyarakat. Layanan tersebut rumit dan memerlukan upaya jangka panjang, tetapi semua upaya itu patut kita kerjakan karena sebagian masa depan Indonesia ada di tangan mereka mereka.


Macam-macam Polimer
Macam-macam Polimer- Menurut Jons Jacob Berzelius, senyawa dengan rumus empiris sama, tetapi massa molekulnya berbeda dinamakan polimer. Polimer didefinisikan sebagai senyawa dengan massa molekul besar dan merupakan gabungan dari monomer-monomer pembentuknya. Polimer yang berasal dari alam disebut polimer alam. Polimer yang dapat dibuat di laboratorium maupun diproduksi dalam jumlah besar di industri, dikenal dengan polimer sintetik.
a.      Polimer Alam

Polimer yang terjadi secara alami dikenal sebagai polimer alam, seperti selulosa, protein, dan karet alam. Berikut dibahas secara lebih terperinci mengenai polimer alam.
1) Struktur Selulosa

Selulosa merupakan polisakarida yang banyak dijumpai dalam dinding sel tanaman. Selulosa merupakan polimer yang terbentuk dari monomer β –D–glukosa melalui ikatan β (1→ 4) glikosidik. Panjang rantai beragam, dari ratusan sampai ribuan unit glukosa.
Selulosa
Kayu mengandung sekitar 50% berat selulosa dan kapas hampir 90% mengandung selulosa. Selulosa dari serat kayu mengandung banyak pengotor yang dapat dimurnikan dengan cara melarutkannya ke dalam campuran NaOH dan CS2. Dalam proses pelarutan ini akan terbentuk cairan kental. Jika cairan kental itu dimasukkan ke dalam pipa berpori pada bak asam, dihasilkan fiber selulosa yang dikenal sebagai rayon. Proses serupa digunakan untuk membuat film tipis selulosa yang dikenal sebagai kertas selofan.
Monomer selulosa
Gambar 10.7 Monomer selulosa ( β -D-glukosa).
Pada setiap monomer selulosa mengandung tiga gugus –OH yang dapat bereaksi dengan asam nitrat membentuk ester nitrat dan dikenal dengan selulosa nitrat. John Wesley Hyatt (1869) menemukan bahwa campuran selulosa nitrat dan yang dilarutkan dalam alkohol menghasilkan plastik yang dinamakan seluloid. Selulosa nitrat atau seluloid digunakan sebagai bahan baku pembuatan sisir hingga bola bilyar. Selulosa nitrat mudah terbakar sehingga saat ini sudah banyak digantikan oleh plastik jenis lain.
2) Karet Alam

Karet alam tersusun atas satuan monomer cis–1,4–isoprena dengan panjang rantai rata-rata sekitar 5.000 satuan isoprena. Masalah utama karet alam adalah taktisitas atau cara penyusunan polimer yang teratur (isotaktik).
cis-1,4-isoprena
cis-1,4-isoprena
Masalah taktisitas karet alam dapat diselesaikan oleh Charles Goodyear (1839). Dia menemukan metode vulkanisasi karet alam dengan belerang sehingga karet alam dapat diubah elastisitasnya. Vulkanisasi karet alam melibatkan pembentukan ikatan silang –S–S– di antara rantai poliisoprena. Vulkanisasi karet berguna untuk menghasilkan karet alam dengan derajat elastisitas sesuai harapan.
http://www.sman10garut.sch.id/wp-content/uploads/kimia/macam-macam-polimer/image4.jpg
Pada vulkanisasi karet alam, penyisipan rantai-rantai pendek dari atom belerang akan mengikat secara silang di antara dua rantai polimer karet alam. Jika jumlah ikatan silang relatif besar, polimer dari karet alam menjadi lebih tegar.
vulkanisasi karet alam
Gambar 10.8 Pada vulkanisasi karet alam, makin banyak ikatan silang, makin tegar karet yang terbentuk
b.      Polimer Sintetik

Hampir semua peralatan terbuat dari bahan polimer, mulai dari alat-alat dapur sampai alat picu jantung buatan. Sampai saat ini, penelitian dan pengembangan bahan polimer masih terus dilakukan dalam upaya menemukan aneka penerapan bahan polimer. Sesuai dengan mekanisme pembuatannya, polimer sintetik tinggi dapat digolongkan menjadi polimer adisi dan polimer kondensasi.
1)      Polimer Adisi

Polimer adisi adalah polimer yang terjadi melalui reaksi adisi, yaitu reaksi yang melibatkan senyawa yang mengandung ikatan rangkap, kemudian diubah menjadi ikatan tunggal. Contoh polimer adisi adalah polietilen (PE), polipropilen (PP), politetrafluoroetilen, polivinilklorida (PVC), dan akrilik.
a)      Polietilen (PE)

Secara kimia, PE sangat inert. Polimer ini tidak larut dalam pelarut apapun pada suhu kamar, tetapi dapat menggembung dalam cairan hidrokarbon (bensin) dan karbon tetraklorida (CCl4). PE tahan terhadap asam dan basa, tetapi dapat rusak oleh asam nitrat pekat. Jika dipanaskan secara kuat, PE membentuk ikatan silang yang diikuti oleh pemutusan ikatan secara acak pada suhu lebih tinggi, tetapi tidak terdepolimerisasi. PE dibagi menjadi dua jenis, yaitu PE kerapatan tinggi (HDPE) dan PE kerapatan rendah (LDPE) seperti di tunjukkan pada Gambar 10.9. Plastik HDPE bersifat kenyal, tidak mudah sobek, dan tahan terhadap kelembapan. Bahan kimia plastik HDPE banyak digunakan untuk pembungkus, dus, isolator listrik, pelapis kabel, dan lain-lain.
Struktur polietilen
Struktur polietilen
LDPE
LDPE
HDPE
HDPE
Tabel 10.1 Sifat-Sifat Fisik Polietilen
Sifat
Polietilen
HDPE
LDPE
Dapat dipotong dengan mudah
×
√
Tidak pecah
√
√
Dapat dilipat
×
√
Tenggelam dalam air
√
×
Menjadi lunak akibat panas
×
√
b)      Polipropilen (PP)

Plastik PP bersifat tegar dan stabil terhadap panas, tekanan, rengkahan, dan bahan kimia. Plastik PP lebih kuat dari PE. PP banyak digunakan untuk botol kemasan karena dapat dibentuk lebih tipis. Kursi plastik yang dapat ditumpuk juga terbuat dari PP.
Struktur polipropilen
Struktur polipropilen
c)      Politetrafluoroetilen (Teflon)

Politetrafluoroetilen tahan terhadap korosi dan pelarut organik. Dari hasil pengujian, hanya lelehan logam alkali atau alkali yang dilarutkan dalam amonia yang dapat mendegradasi polimer ini. Politetrafluoroetilen banyak digunakan untuk insulator listrik, peralatan kimia, dan peralatan rumah seperti pada Gambar 10.10 sebab tahan terhadap air dan suhu tinggi hingga 350°C.
Struktur politetra fluoroetilen
Struktur politetra fluoroetilen
Tabel 10.2 Produk dari Polimer Sintetik
Polimer
Produk
PE
Kantong plastik, lembaran plastik, dan alat-alat dapur
PP
Botol, jeriken, dan kursi
PVC
Pipa air, waterproof, isolasi listrik, dan rak susun
PS (polistiren)
Kemasan (tempat minum) bantalan, dan styrofoam
Teflon
Pot, alat dapur, dan wadah
PMMA
Pengganti gelas/kaca
d)     Polivinilklorida (PVC)

Sekitar 20% klorin digunakan untuk membuat monomer vinilklorida (CH2=CHCl), sebagai bahan baku plastik poliviliklorida (PVC). Substituen klorin pada rantai polimer menjadikan PVC lebih tahan terhadap api dibandingkan PE. Plastik PVC memiliki gaya tarik antara rantai polimer sehingga meningkatkan kekerasan plastik jenis ini. Sifat-sifat PVC dapat divariasikan sesuai fungsinya dengan cara mengubah sifat keplastisan, stabilisasi, pengisi, dan celupannya sehingga menjadikan PVC sebagai plastik serbaguna.
Teflon
Gambar 10.10 Teflon
e)      Polimetilmetakrilat (Polimer Akrilik)

Salah satu polimer akrilik adalah polimetilmetakrilat (PMMA), dikomersialkan dengan nama dagang Lucite dan Plexiglass. PMMA berupa kristal bening yang sangat ringan sehingga banyak digunakan untuk jendela pesawat terbang dan lensa cahaya. PMMA yang sangat transparan digunakan untuk contact lens seperti pada Gambar 10.11.
PPMA digunakan untuk lensa kontak
Gambar 10.11 PPMA digunakan untuk lensa kontak.
Struktur PPMA
Struktur PPMA
2)      Polimer Kondensasi

Polimer kodensasi yaitu polimer yang terbentuk melalui reaksi kondensasi. Reaksi ini melibatkan pembentukan senyawa tidak jenuh dari senyawa jenuh. Plastik sintetis pertama adalah bakelit, yang dikembangkan oleh Baekland (1905). Monomer bakelit merupakan hasil reaksi formaldehid (H2CO) dan fenol (C6H5OH) membentuk fenol tersubstitusi. Pada suhu di atas 100°C, fenol-fenol ini terkondensasi membentuk polifenoksi. Polifenoksi digunakan untuk membuat asesoris, seperti gantungan kunci. Untuk pengerasnya digunakan katalis. Carothers dan koleganya (1920) menemukan rumpun polimer kondensasi yang dikenal sebagai poliamida dan poliester. Poliamida diperoleh melalui reaksi diasilklorida dan diamina.
http://www.sman10garut.sch.id/wp-content/uploads/kimia/macam-macam-polimer/image14.jpg
Alkilen diamina Alkilen diasilklorida poliamida
Poliester dibuat melalui reaksi alkil diasilklorida dengan dihidroksi.
Reaksi polimerisasinya adalah sebagai berikut.
http://www.sman10garut.sch.id/wp-content/uploads/kimia/macam-macam-polimer/image15.jpg
Alkilen dihidroksi Alkilen diasilklorida Poliester
Fiber sintetik yang pertama dibuat adalah nilon. Fiber ini dapat dilihat dengan cara menuangkan larutan heksametilen diamina dalam pelarut air ke dalam larutan adipoilklorida dalam pelarut CH2Cl2.
http://www.sman10garut.sch.id/wp-content/uploads/kimia/macam-macam-polimer/image16.jpg
nilon-6,6
Polimer nilon-6,6 terbentuk pada antarmuka antara kedua fasa pereaksi membentuk film tipis. Jika film itu disentuh, kemudian ditarik, akan tampak serat nilon seperti benang (perhatikan Gambar 10.12). Polimer tersebut dinamakan nilon–6,6 sebab polimer dibentuk dari diamin yang memiliki enam atom karbon dan adipoil yang juga mengandung enam atom karbon.
Nilon
Gambar 10.12 Nilon–6,6.
Polikarbonat terbentuk melalui polimerisasi esterkarbonat dan suatu alkohol. Polikarbonat yang dihasilkan dipasarkan dengan nama dagang Lexan. Lexan memiliki ketahanan tinggi terhadap panas dan cuaca sehinggabanyak digunakan untuk pengaman gelas, rangka jendela, dan helm.
Polikarbonat


THE BASIC TECHNIC OF OXIDATION ACYTELINE WELDINGS


THE BASIC TECHNIC OF OXIDATION ACYTELINE WELDINGS
at SMK MUHAMMADIYAH 1 KEPANJEN

Member of group :
·       Imam Reizal Pahlevi           (24)
·       M.Hari Santoso                     (32)
·       Revi Sanjaya                        (36)
·       Rizky Ari Saputra                 (38)
·       Sigit Dwi Santoso                (40)

Technical Department
SMK MUHAMMADIYAH 1 KEPANJEN
TERAKREDITASI “A”
Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 34 Telp. 0341-395451, 399269 Fax 0341-398768 Kepanjen
Kabupaten Malang Jawa Timur 65163
2012/2013




motto
Failure occurs only when we give up



-albert einsten-

Kegagalan hanya terjadi jika kita menyerah




INTRODUCTION

With the offer puja and give thanks for the presence of Almighty God, for the abundance of His mercy and grace writer can finish this paper entitled "
THE BASIC TECHNIC OF OXIDATION ACYTELINE WELDINGS  at SMK MUHAMMADIYAH 1 KEPANJEN".
We as authors of this paper say a big thank you to all those who have helped in completing this paper ,

1. Mr. Ervano who has guided on how to make and prepare this paper.

2. Friends who have helped resolve this paper.

Authors of this paper realize that this paper is less than perfect. Therefore, the authors expect criticism and constructive suggestions for the perfect paper.
Hopefully, this paper can be useful for the generation of male and female students of SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen also the younger generation as well as for general reading.






                                                  Malang, 06 November 2012

                                                              Drafting Team





TABLE OF CONTENT
Motto………………………………………………….…………………………  i
Introduction ………..….…………....…………………………..………………  ii
Table Of Content…………….............................................................................  iii
Chapter I Introduction
1.1 Background of study……………..……………...………………….……. 1
1.2 Statement of Study………………………………………….………..….. 1
1.3 Purpose of Study………………………………………………………….1
1.4 Significance  of Study…………………………………………………….1
1.5  Scope and Limitation……………………………………………..……… 1
1.6 Definition of key terms……………………………….………………….. 1
Chapter II Review of related literature
2.1  Historical background……………………………………………………. 2
Chapter III Research methodology
3.1 Research design…………………………………………………………..  3
3.2 Approach…………………………………………………………………. 3
3.3 Population and Sample…………………………………………………… 3
3.4 Data Collection…………………………………………………………… 4
3.5 Data Analysis…………………………………………………………….. 4
Chapter IV Research, finding and discussions
4.1 General description of the problems……………………………………… 5
4.2 The solution of the problems…………………………………...………… 5
4.2.1 Weldings steps appropriate to the correct produses…………….….. 5
4.2.2 Work Safety Equipment………………………………...………….. 6
Chapter V Conclussion and suggestions
5.1 Conclussion………………………………...………….………………….. 7
5.2 Suggestion………………………………...…………...………………….. 7
Bibliography………………………………...…………………………………… iv

CHAPTER I
INTRODUCTION
1.1         Background of study :
1.      Lack of understanding about welding steps used OAW (Oxydation Acyteline Welding) correctly.
2.      Lack of understanding about using safety tools in weldings
1.2         Statement of Study
1.      Does the welding operator understand about weldings steps appropriate to the correct produses?
2.      How does understandable of weldings operator conducted to use welding safety tools?
1.3         Purpose of Study        
in general, this research aims to enable the students of SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen know about how to weld using the welding ÖAW correctly
1.4         Significance  of Study
Oxidation Acyteline Weldings(OAW) is manually welding with heating the metal surface to be welded or connected until melted by flame acetyline by burning C2H2 with O2 gas with or without filler metal. Joining process can be done by pressure (pressed), so high that could melt metal.
1.5        Scope and Limitation
This research only addressing to all student of smk muhammadiyah 1 kepanjen specially program membership of machines department.
1.6           Definition of key terms
·      Appropriate : sesuai                             
·      Pressure : tekanan
·      Establish : menetapkan
·      Superimposed : dilapiskan
·      Derived : berasal
·      Combustion : pembakaran
·      Conceivably : menurut pikiran
·      Resistance : perlawanan, etc

CHAPTER II
REVIEW OF RELATED LITERATURE
2.1     Historical background
About 5000 years ago, people have been able to establish the connection metal by heating the two pieces of metal until the critical temperature then both superimposed and then hammered that eventually form a strong bond. Derived from the combustion heater fire wood or charcoal. Conceivably, how long will it take to reach temperatures that can reach critical temperatures heat metal ... of course this kind of way is not effective for use in welding work very much and berfariasi. Acetylene gas discovered in 1892 by Thomas Leopard Wetson. Acetylene and oxygen gas mixture ratio and pressure when burned will produce enough high temperatures can melt metal. Oxygen gas can be produced by with drawing the air so pure oxygen can be taken. This can be done by brins brothers namely the French in 1886. As acetylene gas burners and oxygen called Brander, discovered by Fouche and Picord. This tool into use in 1901.

Once the electricity is found then the development of welding processes running rapidly. In 1885 welding tools arcs found by Bernardes. Thomas discovered in 1886 with an electrical resistance welding systems. Then in 1926 found by Lungumir hydrogen welding and arc welding with inert gas shield invented by Hobart and Dener. In 1936 Wasserman
find ways that have high strength.

CHAPTER III
RESEARCH METHODOLOGY

3.1 Research design
Questionnaire

3.2 Approach
Titttle              :  The Basic Technic of Oxydation Acyteline Weldings
                         at SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen

Compiler         :           Imam Reizal Pahlevi               (24)
M.Hari Santoso                    (32)
Revi Sanjaya                         (36)
Rizky Ari Saputra                  (38)
Sigit Dwi Santoso                  (40)
Class               : XII TPM 1
School             : SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen
The title has been read and approved


Supervising teachers                                                            Authors


Ervano , S.Pd                                                                     Grup  2
3.3 Population and Sample
Population
Students of third grade technical engineering1 Smk muhammadiyah 1 kepanjen
Sample
Some student of third grade technical engineering 1.

3.4 Data Collection
Name                                                        Absent Number                      
Dony Aristanto                                                    18
Awis Susanto                                                       09

3.5 Data Analysis
Questioner
Dony Aristanto :
1.      Do you understand about welding’s steps appropriate to the correct procedures? Please give one example!
When welding electrode should position angle should be fit and if we use gas welding should be done from left to right. and if using electric welding, motion carried from the right to left
2.      Do you understand about using safety tools in weldings? Please give one example!
You should use the time to weld the main tool apron, hammer welding, and mask
3.      What safety tool does you usually use in weldings?
Apron, hammer welding, and glasses
Awis Susanto :
1.      Do you understand about welding’s steps appropriate to the correct procedures? Please give one example!
At the time prior to welding requirements confirm K3: wear coveralls, goggles, and so on.
2.      Do you understand about using safety tools in weldings? Please give one example!
We recommend that you use when welding the ultimate tool: protective goggles, apron
3.      What safety tool does you usually use in weldings?
Apron, hammer welding, and glasses


CHAPTER IV
RESEARCH, FINDING AND DISCUSSIONS

4.1 General description of the problems
Welding with oxy - acetylene welding is a process in manually by heating the surface of the metal to be welded or connected by a gas flame until melted through burning acetylene C2H2 with O2 gas with or without filler metal. process connection to do with the pressure (pressure), so high that can melt metal.
4.2 The solution of the problems
4.2.1 Weldings steps appropriate to the correct produses
1 ~ Place the cylindrical (tube) of oxygen and acetylene bound to the wall or on the stroller in a safe place.
2 ~ Before installing the regulator on any cylindrical, cylindrical valve is opened briefly and close again to the hole and screw free of dust.
3 ~ Install the regulator in each cylindrical.
4 ~ Connect the garden hose to the pipe / hole expense of the regulator, and tighten ties with the wrench.
5 ~ Clean the dust from the inside of the hose with the gas flow to hose.
6 ~ Plug the other end of the hose to the burner.
7 ~ Install the burner mouth, use the appropriate number and tighten the knot. 8 ~ Open the lid cylindrical oxygen and acetylene, and Check new pressure readings monometer content cylindrical (tube).
9 ~ Set the working pressure of oxygen and acetylene.
10 ~ Close the valve on the oxygen and acetylene burner after working pressure as desired.
11 ~ oxygen valve on the burner first opened slightly, then acetylene valve opening pressure greater than oxygen.
12 ~ For the cutting process, use incendiary cutter with open burners welding hose coupling and attach to a hose cutter burners that have been opened.



4.2.2 Work Safety Equipment
At safety equipment consists of:
1. Helmet welding (welding mask),
2. fighting hand
3. Welding clothes (apron)
4. Welding Shoes
5. Welding Rooms

1. Helmet Welding (Welding Mask)
Point to protect the skin of the face and eyes from welding rays (ultra violet and infra red).
The bright beam welding it should not be seen with the eye straight up to 15 meter. Glass of helmet welding or welding is a special mask that can reduce the beam welding. And special glass to protect it from welding sparks, serve glass clear glass on the outside.
2. Gloves
Made from soft leather or asbestos. To facilitate holding the electrode holder. At the time of welding, these gloves should always be worn.
3. Clothes Las (Apron)
Made of leather or asbestos. Complete welding outfit that can protect the body and legs in part.
For overhead welding positions have to wear a full welding. While others simply use a welding apron.
4. Welding Shoes
Useful to protect your feet from the blast of sparks. If there is no welding shoes, wear regular shoes are tight, not to concede easily spark.
5. Welding Rooms
Welding room made ​​of fireproof material. Rooms welding important, namely that those who are around are not disturbed by the danger of welding.
To remove the gas, welding room should be equipped with a ventilation system. Welding Room equipped with welding table comes with a free of fire hazards. Placed around the welding room fire extinguishers and sand.


CHAPTER V
CONCLUSSION AND SUGGESTIONS

5.1 Conclussion
Welding with oxy - acetylene welding is the process manually by heating the surface of the metal to be welded or connected by a gas flame until melted through the burning acetylene gas C2H2 with O2 with or without filler metal. The splicing process can be done with the pressure (pressure), so high that could melt metal.

At safety equipment consists of:
1. Helmet welding (welding mask),
2. fighting hand
3. Welding clothes (apron)
4. Welding Shoes
5. Welding Rooms

5.2 Suggestion
There is no ivory that is not cracked, no one is perfect in this world, we all of course is the author expect criticism and suggestions from readers, since the preparation of this paper was still far from perfect.
In the end, we all say a big thank you for making up for the participation of the readers of this paper may be useful in the future

BIBLIOGRAPHY

http://72.14.235.132/search?q=cache:OvH5VhHfXwoJ:125.163.255.13:1202/teknik_pelayaran_perkapalan/teknik_perkapalan/listrik_kapal/3_peralatan_las_oaw.pdf+cara+las+karbit+oaw&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id
http://laskarbit.blogspot.com/2009/03/pengelasan-dengan-oksi-asetilin.html
http://laskarbit.blogspot.com/2009/03/sejarah-pengelasan-kira-kira-5000-th.html